Title : My Beautiful
Stalker [Chapter 1]
Author : Sintia Jellies
Cast : Park Jimin
(BTS), Jung Soomi (OC)
Length : Chaptered
Genre : Romance
Rating : T
Disclaimer : Cerita ini hanyalah fiktif belaka.
Jimin POV
Langit sore ini tampak begitu indah.
Angin bertiup menerpa wajahku dengan lembut. Aku menyandarkan punggungku di
sandaran bangku taman dan mulai memejamkan kedua mataku. Aku menarik nafas
dalam-dalam dan menghembuskannya dengan perlahan.
Sangat jarang ada kesempatan
seperti ini. Aku hanya bisa datang seminggu sekali ke tempat ini. Aku sangat
sibuk dengan pekerjaanku. Menjadi manajer di perusahaan ayahku adalah mimpiku
sejak aku SMA. Tapi sekarang aku baru sadar ternyata ini sangat sulit. Aku
bahkan tidak ada waktu untuk berkencan dengan seorang wanita.
Tanpa kusadari matahari kini sudah
mengilang. Lampu-lampu yang ada di taman mulai hidup satu persatu. Aku beranjak
dari tempat dudukku dan melangkah menuju apartemenku. Meninggalkan taman ini
seperti meninggalkan kebebasanku.
Tidak terasa aku sudah sampai di
depan sebuah minimarket yang berada di sebelah gedung apartemenku. Aku masuk ke
dalam dan membeli ice vanila latte kesukaanku. Aku segera membayar ke kasir
kemudian meninggalkan minimarket tersebut. Tapi ada sesuatu yang sangat aneh.
Seperti ada seseorang yang sedang mengawasiku. Aku berusaha terlihat tenang dan
melanjutkan perjalanku.
Jimin POV end
Soomi
POV
Jam menunjukan pukul 5 sore. Dengan
terburu aku meraih ponselku dan memasukkannya ke tas slempangku. Aku
meninggalkan apartemenku dan menuju taman. Ini adalah hari minggu. Tentu saja
akan ada namja itu disana. Aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengannya.
Namja
itu bernama Park Jimin. Aku rasa dia berusia sekitar 21 tahun. Dia tinggal di
lantai 12 gedung ini. Dia tinggal di unit 1044 dan sepertinya dia tinggal
sendiri disana. Dia bekerja di perusahaan milik ayahnya dan walaupun kami
tinggal di gedung apartemen yang sama, tapi aku tidak pernah bertemu dengannya
di hari-hari biasa. Oleh karena itu aku sangat menantiakan hari minggu untuk
bisa sekedar memandanginya.
Aku tidak tahu banyak tentang dia.
Itu adalah semua informasi yang aku dapat dari berbagai narasumber. Apa aku
terdengar seperti stalker? Sebenarnya aku tidak bermaksud demikian. Tapi aku
tidak punya pilihan. Aku sangat menyaukainya. Bisa dibilang ini adalah cinta
pada pandangan pertama.
Kini
aku sudah tiba di depan taman dan melihat sekeliling mencari namja itu. Apakah
dia sudah datang? Ataukah aku yang datang lebih awal? Bagaimana jika dia tidak
datang hari ini. Kepalaku dipenuhi oleh pertanyaan-pertannyaan aneh.
Aku
melangkah menuju bangku taman yang biasanya dia duduki berharap dia ada di
sana. Dan benar saja, dia sedang duduk bersandar di atas bangku taman sambil
memejamkan kedua matanya. Lihatlah ini. Aku merasa seperti surga sedang berada
di depanku.
Aku
duduk di bangku taman yang biasa aku duduki. Ini adalah tempat terdekat dan
terbaik untuk melihat semua bagiannya/?. Rambutnya, matanya, hidungnya, kakinya
semuanya. Aku terus saja memandanginya dari tempat dudukku tanpa kusadari
matahari mulai terbenam.
Dia kini membuka matanya dan melihat kesekitar. Dia
kemudian beranjak dari tempat duduknya dan melangkah meninggalkan taman. Aku
juga beranjak dari tempat dudukku dan berjalan di belakannya. Aku mengatur
jarak agar aku tidak ketahuan sedang mengikutinya.
Kini dia sampai di depan sebuah
minimarket dekat gedung apartemen kami. Dia masuk kedalam sedangkan aku tetap
menunggu di luar. Seperti biasa dia membeli ice vanila latte dan membayar ke
kasir.
Dia
melanjutkan perjalannya lagi. Aku juga melanjutkan aktivitasku menguntit dia.
Aku terus saja berjalan sambil melihat punggungnya yang indah. Kamipun sudah
sampai di depan gedung apartemen. Disini memang agak gelap dan sangat sunyi.
Aku melangkah sangat pelan agar langkah kakiku tidak terdengar olehnya. Tapi
tiba-tiba dia berhenti tepat sebelum belokan menuju pintu gedung apartemen. Aku
sangat kaget dan juga ikut menghentikan langkahku. Bagaimana ini? Apa dia
menyadari kehadiranku? Haruskah aku sembunyi di semak-semak. Aku menengok ke
sekitar untuk mencari tempat persembunyian. Tapi sebelum aku berlari untuk
bersembunyi, dia ternyata melanjutkan perjalannya. Aku menghembuskan nafas
lega. Syukurlah dia tidak tahu aku kalau aku menguntitnya.
Soomi
POV end
Jimin POV
Ini terasa makin jelas. Benar-benar
ada yang mengikutiku. Siapakah dia? Apa dia preman di lingkungan ini? Apa dia
mau memalakku? Oh Tuhan tolonglah. Pikiranku mulai berkecamuk. Rasa takutku
memuncak saat sampai di depan gedung apartemen. Disini sangat gelap dan tidak
ada orang selain aku dan orang yang ada dibelakangku itu. Aku berusaha terlihat
santai dan tenang sambil melangkah melewati barisan mobil yang terparkir rapi.
Di depanku tepatnya di arah jam 2,
aku melihat sebuah cermin cembung/? Dan melihat bayangan yang ada disana.
Terlihat ada dua bayangan, bayanganku dan bayangan orang itu. Sambil terus
berjalan aku terus memperhatikan cermin tersebut dan fokus kepada bayangan yang
berada tepat dibelakangku. Tingkahnya sangat aneh. Mengendap endap-endap seperti
pencuri.
Tunggu sebentar. Sepertinya aku
mengenali dia. Bukankah itu yeoja yang tinggal di unit 708. Aku tersenyum
kecil. Hampir saja aku lari karena ulahnya. Tapi kenapa dia terlihat makin
cantik sekarang. Apa dia memakai make up? Benar-benar cantik.
Entah kenapa aku merasa bahwa dia
sedang menguntitku saat ini. Lihat saja dia sekarang. Dia terlihat sangat
panik. Aku tertawa kecil. Sebenarnya aku sangat ingin menoleh kebelakang dan
menghampirinya tapi aku memutuskan untuk melanjutkan jalanku masuk ke rumah.
Aku tidak punya keberanian untuk memulai percakapan dengannya. Aku benar-benar
pengecut. Mungkin selain kesibukanku, sifat pengecutku ini adalah alasan lain
mengapa aku tiak kunjung punya pacar.
Next
Day-
Ini
adalah hari senin. Dan aku harus bekerja. Dengan malas aku beranjak dari tempat
tidur dan menuju dapur untuk menyiapkan sarapan. Makhlum saja aku tinggal
sendirian di sini jadi mau tidak mau aku harus melakukan semuanya sendirian.
Tiba-tiba
ponselku berdering. Aku segera menjawab panggilan masuk yang ternyata dari
kantor.
“Yeobseyo?”
kata ku
“Bos...
kau dimana? Kenapa kau belum datang? Meetingnya akan mulai 30 menit.” jawab
seorang yeoja dari seberang telepon.
“Mwo?
Ini baru jam...” kalimatku terpotong saat aku melihat jam di dinding yang telah
menunjukkan pukul sembilan kurang lima belas menit.
“Oh
tidak sepertinya aku terlambat” lanjutku seraya menutup panggilan telepon dari
sekertarisku.
Aku
segera berlari ke kamar mandi. Aku hanya punya waktu 30 menit untuk bersiap dan
berangangkat ke kantor. Mudah-mudahan saja jalanan nanti tidak macet.
Aku
kini berada dalam lift dan meluncur ke lantai bawah. Aku tidak punya banyak
waktu lagi. Aku harus menelepon sekertarisku dan menyuruhnya untuk
mempersiapkan berkas dan keperluan saat meeeting nanti. Tapi dimana teleponku.
Oh tidak aku meninggalkannya di rumah. Aku segera memencet tombol buka.
Syukurlah lift segera terbuka. Aku memencet tombol 12 berkali-kali. Aku sangat
gelisah saat ini. Apa yang akan terjadi nantinya.
Pintu
lift akhirnya terbuka di lantai 12. Aku berlari ke rumahku dan membuka sandi
pengaman pintu rumah. Aku memasukkan digit kode dengan gerakan cepat.
“Sandi yang anda masukkan salah,
klik option untuk...” bunyi alat itu yang langsung aku tutup.
“Apa yang terjadi? Kenapa bisa
salah?” pekikku pada pintu rumahku. Aku mencoba memasukan kode sandi lagi
tetapi tetap juga salah.
“YA...” aku berteriak pada pintu
rumahku. Aku mencoba kembali, tapi kini dengan sangat hati-hati.
“Awas saja jika kau tidak mau
terbuka, aku akan menendangmu saat ini juga” kataku sambil memasukkan kode
sandinya. Seakan mengerti dengan ancamanku, pintu rumahku akhirnya terbuka.
Aku segera masuk kedalam rumah dan
langsung menuju ke meja makan. Aku meraih ponselku yang tergeletak di atasnya.
Sambil berjalan keluar rumah aku mencoba untuk menelepon sekertarisku.
“Oh tidak. Kenapa dia tidak
menjawabnya?” kataku dalam hati. Aku mencoba meneleponnya lagi tapi teleponnya
sibuk.
“Apa yang terjadi? Apa dia sedang
mempersiapkan meetingnya?” aku masuk ke dalam lift dan meluncur turun ke lantai
dasar. Aku masih saja mencoba menghubunginya dengan mengirim pesan singkat.
Ini benar-benar hari sialku. Aku
tidak tahu bagaimana nasibku setelah ini. Aku sangat benci hari ini. Aku akan
mencoba menelepon sekertarisku sekali lagi.
“Yeobseyo” sahut yeoja itu
diseberang telepon. Bersamaan dengan pintu lift terbuka dan seorang yeoja
berdiri di depanku. Yeoja unit 708.
To
Be Continued
Wah... ini fanfic pertamaku. Buat reader kasih komentar ya. Aku mau belajar dari masukan kalian
Tidak ada komentar:
Posting Komentar