Selasa, 13 September 2016

Fanfic BTS Jimin My Beautiful Stalker Chap 1



Title                 : My Beautiful Stalker [Chapter 1]
Author             : Sintia Jellies
Cast                 : Park Jimin (BTS), Jung Soomi (OC)
Length             : Chaptered
Genre              : Romance
Rating             : T
Disclaimer       : Cerita ini hanyalah fiktif belaka.

Jimin POV
Langit sore ini tampak begitu indah. Angin bertiup menerpa wajahku dengan lembut. Aku menyandarkan punggungku di sandaran bangku taman dan mulai memejamkan kedua mataku. Aku menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan perlahan.
Sangat jarang ada kesempatan seperti ini. Aku hanya bisa datang seminggu sekali ke tempat ini. Aku sangat sibuk dengan pekerjaanku. Menjadi manajer di perusahaan ayahku adalah mimpiku sejak aku SMA. Tapi sekarang aku baru sadar ternyata ini sangat sulit. Aku bahkan tidak ada waktu untuk berkencan dengan seorang wanita.
Tanpa kusadari matahari kini sudah mengilang. Lampu-lampu yang ada di taman mulai hidup satu persatu. Aku beranjak dari tempat dudukku dan melangkah menuju apartemenku. Meninggalkan taman ini seperti meninggalkan kebebasanku.
Tidak terasa aku sudah sampai di depan sebuah minimarket yang berada di sebelah gedung apartemenku. Aku masuk ke dalam dan membeli ice vanila latte kesukaanku. Aku segera membayar ke kasir kemudian meninggalkan minimarket tersebut. Tapi ada sesuatu yang sangat aneh. Seperti ada seseorang yang sedang mengawasiku. Aku berusaha terlihat tenang dan melanjutkan perjalanku.
Jimin POV end


            Soomi POV
Jam menunjukan pukul 5 sore. Dengan terburu aku meraih ponselku dan memasukkannya ke tas slempangku. Aku meninggalkan apartemenku dan menuju taman. Ini adalah hari minggu. Tentu saja akan ada namja itu disana. Aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengannya.
            Namja itu bernama Park Jimin. Aku rasa dia berusia sekitar 21 tahun. Dia tinggal di lantai 12 gedung ini. Dia tinggal di unit 1044 dan sepertinya dia tinggal sendiri disana. Dia bekerja di perusahaan milik ayahnya dan walaupun kami tinggal di gedung apartemen yang sama, tapi aku tidak pernah bertemu dengannya di hari-hari biasa. Oleh karena itu aku sangat menantiakan hari minggu untuk bisa sekedar memandanginya.
Aku tidak tahu banyak tentang dia. Itu adalah semua informasi yang aku dapat dari berbagai narasumber. Apa aku terdengar seperti stalker? Sebenarnya aku tidak bermaksud demikian. Tapi aku tidak punya pilihan. Aku sangat menyaukainya. Bisa dibilang ini adalah cinta pada pandangan pertama.
            Kini aku sudah tiba di depan taman dan melihat sekeliling mencari namja itu. Apakah dia sudah datang? Ataukah aku yang datang lebih awal? Bagaimana jika dia tidak datang hari ini. Kepalaku dipenuhi oleh pertanyaan-pertannyaan aneh.
            Aku melangkah menuju bangku taman yang biasanya dia duduki berharap dia ada di sana. Dan benar saja, dia sedang duduk bersandar di atas bangku taman sambil memejamkan kedua matanya. Lihatlah ini. Aku merasa seperti surga sedang berada di depanku.
            Aku duduk di bangku taman yang biasa aku duduki. Ini adalah tempat terdekat dan terbaik untuk melihat semua bagiannya/?. Rambutnya, matanya, hidungnya, kakinya semuanya. Aku terus saja memandanginya dari tempat dudukku tanpa kusadari matahari mulai terbenam.
Dia kini membuka matanya dan melihat kesekitar. Dia kemudian beranjak dari tempat duduknya dan melangkah meninggalkan taman. Aku juga beranjak dari tempat dudukku dan berjalan di belakannya. Aku mengatur jarak agar aku tidak ketahuan sedang mengikutinya.
Kini dia sampai di depan sebuah minimarket dekat gedung apartemen kami. Dia masuk kedalam sedangkan aku tetap menunggu di luar. Seperti biasa dia membeli ice vanila latte dan membayar ke kasir.
            Dia melanjutkan perjalannya lagi. Aku juga melanjutkan aktivitasku menguntit dia. Aku terus saja berjalan sambil melihat punggungnya yang indah. Kamipun sudah sampai di depan gedung apartemen. Disini memang agak gelap dan sangat sunyi. Aku melangkah sangat pelan agar langkah kakiku tidak terdengar olehnya. Tapi tiba-tiba dia berhenti tepat sebelum belokan menuju pintu gedung apartemen. Aku sangat kaget dan juga ikut menghentikan langkahku. Bagaimana ini? Apa dia menyadari kehadiranku? Haruskah aku sembunyi di semak-semak. Aku menengok ke sekitar untuk mencari tempat persembunyian. Tapi sebelum aku berlari untuk bersembunyi, dia ternyata melanjutkan perjalannya. Aku menghembuskan nafas lega. Syukurlah dia tidak tahu aku kalau aku menguntitnya.
            Soomi POV end


Jimin POV
Ini terasa makin jelas. Benar-benar ada yang mengikutiku. Siapakah dia? Apa dia preman di lingkungan ini? Apa dia mau memalakku? Oh Tuhan tolonglah. Pikiranku mulai berkecamuk. Rasa takutku memuncak saat sampai di depan gedung apartemen. Disini sangat gelap dan tidak ada orang selain aku dan orang yang ada dibelakangku itu. Aku berusaha terlihat santai dan tenang sambil melangkah melewati barisan mobil yang terparkir rapi.
Di depanku tepatnya di arah jam 2, aku melihat sebuah cermin cembung/? Dan melihat bayangan yang ada disana. Terlihat ada dua bayangan, bayanganku dan bayangan orang itu. Sambil terus berjalan aku terus memperhatikan cermin tersebut dan fokus kepada bayangan yang berada tepat dibelakangku. Tingkahnya sangat aneh. Mengendap endap-endap seperti pencuri.
Tunggu sebentar. Sepertinya aku mengenali dia. Bukankah itu yeoja yang tinggal di unit 708. Aku tersenyum kecil. Hampir saja aku lari karena ulahnya. Tapi kenapa dia terlihat makin cantik sekarang. Apa dia memakai make up? Benar-benar cantik.
Entah kenapa aku merasa bahwa dia sedang menguntitku saat ini. Lihat saja dia sekarang. Dia terlihat sangat panik. Aku tertawa kecil. Sebenarnya aku sangat ingin menoleh kebelakang dan menghampirinya tapi aku memutuskan untuk melanjutkan jalanku masuk ke rumah. Aku tidak punya keberanian untuk memulai percakapan dengannya. Aku benar-benar pengecut. Mungkin selain kesibukanku, sifat pengecutku ini adalah alasan lain mengapa aku tiak kunjung punya pacar.

Next Day-

            Ini adalah hari senin. Dan aku harus bekerja. Dengan malas aku beranjak dari tempat tidur dan menuju dapur untuk menyiapkan sarapan. Makhlum saja aku tinggal sendirian di sini jadi mau tidak mau aku harus melakukan semuanya sendirian.
            Tiba-tiba ponselku berdering. Aku segera menjawab panggilan masuk yang ternyata dari kantor.
            “Yeobseyo?” kata ku
            “Bos... kau dimana? Kenapa kau belum datang? Meetingnya akan mulai 30 menit.” jawab seorang yeoja dari seberang telepon.
            “Mwo? Ini baru jam...” kalimatku terpotong saat aku melihat jam di dinding yang telah menunjukkan pukul sembilan kurang lima belas menit.
            “Oh tidak sepertinya aku terlambat” lanjutku seraya menutup panggilan telepon dari sekertarisku.
            Aku segera berlari ke kamar mandi. Aku hanya punya waktu 30 menit untuk bersiap dan berangangkat ke kantor. Mudah-mudahan saja jalanan nanti tidak macet.
            Aku kini berada dalam lift dan meluncur ke lantai bawah. Aku tidak punya banyak waktu lagi. Aku harus menelepon sekertarisku dan menyuruhnya untuk mempersiapkan berkas dan keperluan saat meeeting nanti. Tapi dimana teleponku. Oh tidak aku meninggalkannya di rumah. Aku segera memencet tombol buka. Syukurlah lift segera terbuka. Aku memencet tombol 12 berkali-kali. Aku sangat gelisah saat ini. Apa yang akan terjadi nantinya.
            Pintu lift akhirnya terbuka di lantai 12. Aku berlari ke rumahku dan membuka sandi pengaman pintu rumah. Aku memasukkan digit kode dengan gerakan cepat.
“Sandi yang anda masukkan salah, klik option untuk...” bunyi alat itu yang langsung aku tutup.
“Apa yang terjadi? Kenapa bisa salah?” pekikku pada pintu rumahku. Aku mencoba memasukan kode sandi lagi tetapi tetap juga salah.
“YA...” aku berteriak pada pintu rumahku. Aku mencoba kembali, tapi kini dengan sangat hati-hati.
“Awas saja jika kau tidak mau terbuka, aku akan menendangmu saat ini juga” kataku sambil memasukkan kode sandinya. Seakan mengerti dengan ancamanku, pintu rumahku akhirnya terbuka.
Aku segera masuk kedalam rumah dan langsung menuju ke meja makan. Aku meraih ponselku yang tergeletak di atasnya. Sambil berjalan keluar rumah aku mencoba untuk menelepon sekertarisku.
“Oh tidak. Kenapa dia tidak menjawabnya?” kataku dalam hati. Aku mencoba meneleponnya lagi tapi teleponnya sibuk.
“Apa yang terjadi? Apa dia sedang mempersiapkan meetingnya?” aku masuk ke dalam lift dan meluncur turun ke lantai dasar. Aku masih saja mencoba menghubunginya dengan mengirim pesan singkat.
Ini benar-benar hari sialku. Aku tidak tahu bagaimana nasibku setelah ini. Aku sangat benci hari ini. Aku akan mencoba menelepon sekertarisku sekali lagi.
“Yeobseyo” sahut yeoja itu diseberang telepon. Bersamaan dengan pintu lift terbuka dan seorang yeoja berdiri di depanku. Yeoja unit 708.

To Be Continued

Wah... ini fanfic pertamaku. Buat reader kasih komentar ya. Aku mau belajar dari masukan kalian

Tidak ada komentar:

Posting Komentar